Being 18 is weird.
I have no idea how can I come up with that conclusion, because once I state it in front of people in their 40s, they will look at me like, "No. 18 is fun. 18 isn't weird."
Because how can you call it fun being 18 when you wanted to stay at your bed all day like 70, when you wanted to call your stupid doodles as a piece of 'art' like you were 5. When everyone else expected you to act like 37 but treat you like you're 12. How can you call it fun when you don't want to write your essay and just pouring idiotic phrases and make it 5 pages long on your college assignment like you're still in the middle school, and how can you expect an 18 being wise and already thinking about their future and what they wanna do when only feel like yesterday they still ask if they can go to bathroom like they're still in the high school?
And they think you fall in love like you are 23. Fall hard.
18 is just a matter of a number. You can see me being 18 and act like 7 on some days, and maybe 28 on the other days. It's like being 17 or 19. There are barely any differences. You think being 18 is fun but is it only me that think being 6 is more fun?
But I guess, whatever it is, 18 is still just a number and I still go figure out what's going on.
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Wow.
It surprises me now how can someone be so winner and how the other be so loser.
Sadly, I'm the second.
Surprising, right? At least, buat aku. How can someone be so simple and saying that he'll fly to Europe just like he'll eat salad for breakfast. Like "nothing's big!" Gundulmu, itu pencapaian gede banget!
Sadly, I'm the second.
Surprising, right? At least, buat aku. How can someone be so simple and saying that he'll fly to Europe just like he'll eat salad for breakfast. Like "nothing's big!" Gundulmu, itu pencapaian gede banget!
List of things I am not and I do not
- I am not a morning person
- I am not a funny little girl (not anymore)
- I am (hopefully) not a weak person
- nor I am a strong one neither
- I am not tall
- I am not an easy going and friendly kind of person
- I don't like cheese
- and I don't like cheesy stuffs/person
- I am not a socmed person (holyyyyy crap)
- I am not going crazy over Justin Bieber and Zac Efron (not anymore)
- More like I don't like those kind of faces, I adore Andrew Garfield kind of face
- I don't like wearing black
- I don't like denim jacket
- I am not a kind of person who makes the first move
- I don't speak English fluently
- or Spanish or French or Korean
- I don't really share stuffs online unless my writing
- I don't like 30 degrees and up
- but at the same time I am not going to survive 18 degrees and below
- I don't do math well
- I never taste alcohol and I don't like people who smoke
- I don't have an instagram account (frankly I was born in wrong century)
- because I don't like people viewing my pics
- I am not great at making diy things
- I don't like cramp at my tummy when I got my period (more like, who does?)
- I don't think I am normal
- but it doesn't mean I think I am weird
YOU KNOW, I CAN WRITE MORE.
BUT TSK TSK
- I am not a funny little girl (not anymore)
- I am (hopefully) not a weak person
- nor I am a strong one neither
- I am not tall
- I am not an easy going and friendly kind of person
- I don't like cheese
- and I don't like cheesy stuffs/person
- I am not a socmed person (holyyyyy crap)
- I am not going crazy over Justin Bieber and Zac Efron (not anymore)
- More like I don't like those kind of faces, I adore Andrew Garfield kind of face
- I don't like wearing black
- I don't like denim jacket
- I am not a kind of person who makes the first move
- I don't speak English fluently
- or Spanish or French or Korean
- I don't really share stuffs online unless my writing
- I don't like 30 degrees and up
- but at the same time I am not going to survive 18 degrees and below
- I don't do math well
- I never taste alcohol and I don't like people who smoke
- I don't have an instagram account (frankly I was born in wrong century)
- because I don't like people viewing my pics
- I am not great at making diy things
- I don't like cramp at my tummy when I got my period (more like, who does?)
- I don't think I am normal
- but it doesn't mean I think I am weird
YOU KNOW, I CAN WRITE MORE.
BUT TSK TSK
Crossroads.
![]() |
| Visit the original source here |
Di persimpangan jalan gadis itu berhenti. Telah ia tinggalkan cabang pertama dua ratus kilometer di belakang punggungnya, dan kini sudah didapatnya kerikil kecil menancap di permukaan kakinya. Wajahnya kotor, sedebu menempel dan bahkan sel-sel matinya tidak sabar meloncat dan menjauh meninggalkannya. Didengarnya beberapa suara menjerit-jerit di belakang, walau suara itu jauh dan samar, walau telinganya susah menjangkau dengar, namun ia menemukan sepotong kecil dari hatinya tenggelam dalam suara-suara itu--ikut memanggilnya.
Sesaat ia terduduk. Dipandangnya jauh pada jalan berkerikil dan penuh debu itu. Jalan itu sungguh bau--bunga-bunga di pinggir jalan itu bau, orang-orang yang memandangnya dari tepi jalan itu bau, dan udara yang diserap oleh gelembung-gelembung dadanya bau. Bukan bau busuk. Hanya tidak menyenangkan. Ia membenci bau itu seperti ia membenci campuran susu di kopinya, seperti ia membenci kubis di supnya. Ia membenci bau itu seperti seorang anak kecil yang membenci tidur awal saat seorang ibu memanggil-manggil ke peraduan. Ia membenci bau itu seperti matahari yang hendak tenggelam tanpa tahu keesokan harinya akan terbit lagi.
Di persimpangan jalan itu gadis itu menarik nafas berat. Ia tahu jalan mana yang harus diambil, ia hanya ragu. Keraguan itu memakan separuh otak dan hatinya, dikunyah-kunyah sampai habis, sehingga sarafnya bingung harus menyampaikan sinyal sakit kemana. Ia memandang ke jalan lain, jalan yang berkarpet rumput dan berhias pelangi. Ada keharuan menyelip menyesakkannya karena suatu waktu ia pernah mengecap manisnya madu dari sungai-sungai yang mengalir di jalan itu. Ia paham bagaimana susu dari sapi yang tinggal di jalan itu terasa dan ia tahu bagaimana segar buah yang terpetik di jalan itu ternikmat.
Tak lama kemudian, tertidurlah si gadis--di persimpangan jalan itu. Dalam mimpinya, seseorang memberinya sebuah topi untuk melindungi pandangannya dari silau matahari dan seorang tua memberinya senyum untuk mengingatkan ia masih punya hari. Tangan Tuhan ada dimana-mana, begitu kata sang tua.
Ia tahu ada tangan Tuhan.. bahkan di persimpangan jalan itu.
**)
Cieeeeee author galau.
Balik lagi setelah dua minggu menghilang ditelan Sumanto #EH. Balik lagi setelah dua minggu sembunyi tanpa kabar tanpa surat tanpa angin yang membawa bau rambut dan bau badan dan bau ketek #EH. HABIS KEMANA AJASIH? SEKOLAH AJA TUH URUSIN. Kemana katamu? Tanyakan pada Jupe yang bergoyang #EH.
Judul post ini: Crossroads.
IYA UDA TAU.
Well, latest post aku bahas tentang filosofis hidup. Dan setelah dibaca-baca lagi.. yaampun, Chey, dafuq are you talking bout? Jalang? Jalan? Anak kelas 12 SMA uda berani bilang jalang? Kini hidup wanita si kupu-kupu malam, bekerja bertaruh seluruh jiwa raga~~
I don't know wth is wrong with crossroads, it isn't even deserve to be blamed. Something beautiful about it. The way some people get confused about which way to take (one way or another.. I'm gonna met ya~) The way some people have to make decision about which one is the right way and the way others just try to find out and they're lucky enough to survive one of its cross.
Crossroads sebenarnya adalah tulisan berabad-abad yang lalu, saat umur aku masih enam belas tahun #PLISS (I know what an annoying hashtag I use, right? Wkw) Crossroads dibuat entah dengan latar belakang, rumusan masalah dan tujuan apa. Crossroads cerita tentang gimana seorang cewek (dengan status gadis, remaja, labil) bingung tentang jalan mana yang harus diambil saat dia uda jauh di belakang persimpangan jalan itu. Crossroads terinspirasi dari kisah Hercules yang diambil dari buku dongeng sebelum tidur adik penulis (walaupun nggak jelas cerita itu official apa enggak karena di mitologi wikia bener-bener nggak ada! Kisah tentang Hercules yang disuruh memilih dua jalan oleh seorang dewi Olimpus untuk menebus kesalahannya: satu jalan penuh rumput, bunga-bunga, dan manis; jalan lainnya penuh kerikil, batu tajam, dan busuk.)
Ada tangan Tuhan di Crossroads. Ada bantuan di setiap persimpangan jalan :))
3 Filosofis Hidup
Ini adalah filosofis hidup yang tadi sempet kepikiran selama boker.
Jorok, Chey.
IYAJOROKBANGETIHMASAMIKIRINHALGINIANPASBOKERMATIAJALO.
Terserah, karena aku lagi menderita writer's block yang tampaknya kayak STD aja sembuhnya nggak ilang-ilang, langsung nulis aja.
1. Hidup ini Jalan
Life's a bitch. Kata anak-anak barat alay di facebook. Hidup itu jalang kata mereka. Hidup berusaha tampil cantik habis-habisan, memikatmu, merayumu, tapi nggak lama kemudian hidup akan memborgol tanganmu, mencercamu habis-habisan, berkata dengan bahasa pelaut, menjambak rambutmu, bilang kakimu bau dan ibumu gendut. Hidup itu jalang karena dia memainkan banyak orang dan terkadang dia bohong, tapi dia lebih suka jujur dan bilang rambutmu mirip genderuwo.
Tapi mereka salah. Hidup itujalang. Hidup itu JALAN.
Hidup adalah jalan panjang. Road never ends. Hidupmu adalah perjalanan panjang. Journey never ends. Hidup adalah jalan nggak beraspal dan kamu adalah sepeda gunung yang melewatinya. Di atas jalan itu, batu batu dan kerikil mungkin masuk ke jari-jari banmu dan itu rasanya nggak enak banget (tau darimana nggak enak, coba?) Sifatmu, keras atau mudah ditaklukkan, adalah ketebalan pelekmu. Hidup adalah jalan dan saat kamu jadi roda di atasnya, kamu tahu bukan nggak mungkin kerikil mengganggu.
Tapi selama pelekmu masih tebal, kamu tau kamu bisa berputar.
2. Hidup ini Pertunjukan
Kamu adalah pemain tanpa script. Dan hidup ini panggung pertunjukan tanpa backstage. Di hidupmu kamu adalah pemeran utama, di hidup beberapa orang kamu pemain pembantu, dan di hidup yang lain kamu cuman figuran. Dan siapa sutradaranya? Tuhan. Agak religius banget kalo uda nulis kata Tuhan. Tapi.. admit it, Dia sutradara sekaligus penonton. Dan yang bisa kamu lakukan? Cuma berimprovisasi dengan baik.
Bahkan kamu rancu tentang mana batas antara naskah pertunjukan dan improvisasi. Kamu rancu tentang apakah drama ini bakalan sukses atau nggak. Kamu bahkan nggak tau gimana scene selanjutnya dan kamu nggak selalu bisa berekspresi dengan bagus atau pakai diksi pilihan.
But at least, it's your show and you can't be more real than you've and you'll ever be.
3. Hidup bukan sesuatu yang disertai buku instruksi
Ini adalah kesimpulan dari tulisan ini:
Terkadang hidup memberimu pilihan dan seringkali nggak ada yang tahu atau akan memberitahumu mana pilihan yang nggak tepat. Lalu kenapa kalau kamu buat kesalahan? Hidup bukan rangkaian perbuatan yang disertai instruksi manual. Dan saat hidup memberimu lemon yang asam, buat satu gelas sari lemon dicampur cuka dan satu sloki tequilla, lalu buat hidup meneguknya sendiri.
Jorok, Chey.
IYAJOROKBANGETIHMASAMIKIRINHALGINIANPASBOKERMATIAJALO.
Terserah, karena aku lagi menderita writer's block yang tampaknya kayak STD aja sembuhnya nggak ilang-ilang, langsung nulis aja.
1. Hidup ini Jalan
Life's a bitch. Kata anak-anak barat alay di facebook. Hidup itu jalang kata mereka. Hidup berusaha tampil cantik habis-habisan, memikatmu, merayumu, tapi nggak lama kemudian hidup akan memborgol tanganmu, mencercamu habis-habisan, berkata dengan bahasa pelaut, menjambak rambutmu, bilang kakimu bau dan ibumu gendut. Hidup itu jalang karena dia memainkan banyak orang dan terkadang dia bohong, tapi dia lebih suka jujur dan bilang rambutmu mirip genderuwo.
Tapi mereka salah. Hidup itu
Hidup adalah jalan panjang. Road never ends. Hidupmu adalah perjalanan panjang. Journey never ends. Hidup adalah jalan nggak beraspal dan kamu adalah sepeda gunung yang melewatinya. Di atas jalan itu, batu batu dan kerikil mungkin masuk ke jari-jari banmu dan itu rasanya nggak enak banget (tau darimana nggak enak, coba?) Sifatmu, keras atau mudah ditaklukkan, adalah ketebalan pelekmu. Hidup adalah jalan dan saat kamu jadi roda di atasnya, kamu tahu bukan nggak mungkin kerikil mengganggu.
Tapi selama pelekmu masih tebal, kamu tau kamu bisa berputar.
2. Hidup ini Pertunjukan
Kamu adalah pemain tanpa script. Dan hidup ini panggung pertunjukan tanpa backstage. Di hidupmu kamu adalah pemeran utama, di hidup beberapa orang kamu pemain pembantu, dan di hidup yang lain kamu cuman figuran. Dan siapa sutradaranya? Tuhan. Agak religius banget kalo uda nulis kata Tuhan. Tapi.. admit it, Dia sutradara sekaligus penonton. Dan yang bisa kamu lakukan? Cuma berimprovisasi dengan baik.
Bahkan kamu rancu tentang mana batas antara naskah pertunjukan dan improvisasi. Kamu rancu tentang apakah drama ini bakalan sukses atau nggak. Kamu bahkan nggak tau gimana scene selanjutnya dan kamu nggak selalu bisa berekspresi dengan bagus atau pakai diksi pilihan.
But at least, it's your show and you can't be more real than you've and you'll ever be.
3. Hidup bukan sesuatu yang disertai buku instruksi
Ini adalah kesimpulan dari tulisan ini:
Terkadang hidup memberimu pilihan dan seringkali nggak ada yang tahu atau akan memberitahumu mana pilihan yang nggak tepat. Lalu kenapa kalau kamu buat kesalahan? Hidup bukan rangkaian perbuatan yang disertai instruksi manual. Dan saat hidup memberimu lemon yang asam, buat satu gelas sari lemon dicampur cuka dan satu sloki tequilla, lalu buat hidup meneguknya sendiri.

