home

/ Februari 02, 2017 /

Based on the prompt: Places you’ve lived or houses you’ve lived in, and who you “were” at that time.

**)

Kadang-kadang, bangun tidur jam setengah sembilan pagi, nemu kalo rumah kosong dan ga ada suara selain kendaraan lewat depan rumah adalah kondisi yang aneh. Semua lampu uda dimatiin, tv ga nyala, dan gada suara orang buka tutup kulkas. )

That was me for awhile. Sampai sekarang malah. Ga peduli seberapa lama aku uda ga lagi harus berangkat sekolah jam enam dan pulang jam empat—yang mana kondisi pas rumah lagi rame-ramenya—I found myself weirdly unused to that feeling. Kalau emang rumah ada hantunya, mungkin hantu-hantu itu uda biasa sama setting sepi kaya gini. Tapi bukan aku, yang biasa ada di rumah di jam-jam high peak: penuh sama anak kecil, suara ngobrol yang kadang-kadang obnoxiously loud, selalu ada orang di semua ruangan.

And that feeling growing bigger as this house has renovated. Banyak hal yang berubah: beberapa hal yang ga berubah cuman adek yang tetep ga berani tidur sendiri, masih sulit untuk jaga kamar tetep rapi.

Dan satu di antara sekian hal yang berubah, salah satu hal dan hal yang menginspirasi tulisan ini adalah sekarang kita punya kamar sholat. Kamar yang sekarang uda jejer tiga dari paling timur: kamar adek, kamar aku, dan kamar sholat. Kalo ga salah hitung, udah 11 tahun sejak terakhir punya kamar sholat. Terakhir kami punya kamar sholat adalah di "rumah belakang". Digging this topic means digging out the earliest memories of my childhood.

**)

Someone said home is might not be a place but rather a person. Tapi buat aku, home is a home quite literally waktu masih tinggal di rumah belakang.

Rumah belakang cuman beda beberapa meter dari rumah aku yang sekarang. Bedanya, kita harus masuk ke blok gang kecil. Berdiri satu kavling sama rumah punya saudara. Kavlingnya not by any means kecil, walaupun bangunan yang berdiri di atasnya iya. I'm not good at measuring things and too lazy to check how large it is in meter but it quite large heheh gede aja pokoknya.

Hal pertama yang aku inget adalah, halamannya yang luas, tapi ga berasa lapangan karena ayah dulu adalah orang yang sedikit obsesi sama gardening. Uda lupa tanaman-tanaman apa aja yang ada di halamannya tapi yang jelas inget kalo ada pohon besaran disana (cross-checked thing di google dan ternyata Bahasa Indonesianya murbei—kangen besaran, uda bertahun-tahun sejak ga makan) Kalo berdasar sama ingatan, mungkin lebarnya tujuh kali tujuh meter? Yang jelas halamannya makan a good half of space we own back then.

Rumah belakang cuman sebuah rumah yang dalamnya dipisah sama gedek (google cross checked lagi untuk Bahasa Indonesia nya dan ha! anyaman bambu) Malah kalo sekarang diingat-ingat lagi curiga kalo sebenernya bagian belakang rumah, dapur dan kamar mandi sebenernya gada karena bener cuman dari gedek. Dan meanwhile sebagian besar bagian rumah belakang lantainya adalah plester semen, di bagian dapur cuman dilapisi tanah. It was clear as water that my family lived in a state of poverty back then. Walau mama ayah sama-sama kerja, tapi profesi guru bukan profesi idaman dulu, menurut impresi aku. How things change, eh?

Dan ga ada orang yang punya kamar sendiri haha. Aku, mama, sama ayah tidur di tempat tidur di depan tv. Ada dua kamar sebenernya, satu adalah kamar tempat lemari-lemari baju dan buku-buku, satunya adalah kamar sholat. How I wish aku punya kamar sholat model kaya gitu sekarang, karena kamu bisa ngintip semacam kebun dari jendela kamar sholat dan anginnya masuk sepoi sepoi dari jendela itu. It might be distorted by my biased memory but it was quite a peaceful place.

**)

Sampai sekarang, ga ada orang yang punya foto apa-apa tentang rumah itu. Rumahnya boleh kecil, tapi kenangannya besar.

Ga terlalu banyak yang bisa di dig sebenernya dari memori payah aku. Kenangan nonton sinetron abal-abal malam hari (dan yang bikin aku nahan diri saat adek nonton sinetron Anak Jalanan karena I'd do the same if I was her age). Sarapan jam enam pagi sebelum berangkat sekolah. Narik-narik kaleng air dari sumur (masih ingat kalo aku heran kenapa pas ditarik airnya bersih padahal kalo dilihat kedalam airnya hitam?). Nahan diri ga ambil besaran habis kena cacar digigit semut merah. Dengan bodoh dan ga pedulinya duduk di atas tumpukan tanah di halaman, ngotor-ngotorin baju.

Pergi ke kondangan saudara—enggak jauh sih, cuman beda dua blok. Pulang dan nemu kalo ternyata dapurnya uda terendam air, kena banjir. Cerita ini ga dilandas kenangan, tapi cerita mama. I don't remember this part but it is quite hilarious to imagine, mama belum hapus makeup kondangan dan harus bantu ayah bersihin banjir dapur. What a mess banget kan.

**)

Things happened and we forced to move out.

Masih inget baru bangun dari bobok siang dan mama bilang, "mulai besok pindah ke rumah depan, ya." Seorang anak kecil, delapan tahun, ga ngerti apa-apa tentang properti rumah, atau status kepemilikan, dan bahkan mungkin ga ngerti siapa nama uti yang ketemu tiap harinya, bahkan dalam state of idiot itu aku tau kalo kita bakal pindah, kita mesti pindah. Kalo diibaratkan sekarang, rasanya kaya naik kendaraan dan tau kita bakal nabrak beberapa detik sebelum kita bener-bener nabrak.

Cuman dengan durasi yang lebih lama—days instead of seconds. Dengan intensitas sakit yang beda—mentally instead of physically.

Rumah itu jelas bukan rumah pertama yang keluarga aku tinggali. Mungkin sebelumnya tinggal di rumah uti, walau aku samasekali ga punya memori tinggal di rumah uti sebelum tinggal di rumah belakang. Sampai sekarang aku ga ngerti kenapa aku harus nangis saat pindah dari rumah itu. I mean, a merely eight years old, barely know nothing about the world. Ga akan ada bedanya walaupun harus tinggal di rumah belakang atau di rumah depan buat aku yang sekecil itu—dalam sense yang sama ga akan ada bedanya, ga akan ngaruh pendapat seorang bayi kalo dia mau milih lahir di Spanyol atau India. So why would I cry that afternoon, still a mystery even for a twenty year old me now.

Dan kadang-kadang aku mikir, sadar bahwa I feel like sometime I experience that noon in a third person perspective. Kaya aku liat aku sendiri nangis di atas tempat tidur itu. Weird and pointless to be told honestly but well why not kan.

**)

How things are completely different now is something to be grateful of, but not necessarily what I'm going to write here rn. I miss things, alot of things. It feels good to have nice house, ga kebocoran pas ujan, ga dingin saat angin gede but if things didn’t happen we might still live in that house. 



--

a/n: well i finally write somethings? like yeay?

sureprise juga sih nulis sesuatu yang (akhirnya) bisa nyampe 1k word counted hahahah berharap lebih produktif bcs basically i have no life sejak liburan. disela-sela nonton drama korea sampe mabok sempat mikir: harus nulis sesuatu! *pake iket kepala dan buka file doc baru* ceritanya mau bikin prompt series yang diambil random di internet, entah fiksi atau non-fiksi. 

i hope i write something so soon in the future (cross fingered promise) till then bye! xo

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2010 I'm mostly tired., All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger