Pada Suatu Pagi Hari, -SDD

/ Juli 19, 2013 /

image source from here


Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit, berteriak-teriak, mengamuk, memecahkan cermin, membakar tempat tidur.

Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik rintik di lorong sepi pada suatu pagi.


- Sapardi Djoko Damono

***



Jadi, di sanalah ia. Berjalan tersuruk dan pelan-pelan di antara anak-anak hujan yang mengantarnya di sepanjang lorong gelap itu. Matanya, pipinya, ia ingin semua bagian--setiap inci dari dirinya basah.

Ia merasa dadanya jatuh ke perut. Lalu diremas, dipilin, dipuntir seperti jemuran basah. Di ruang dadanya yang kini kosong, ia mulai tahu bagaimana rasanya bila mungkin kata 'sakit' benar-benar ada. Karena sekarang yang nyata ia punya. Ia menangis tanpa suara, sekali lagi, setelah menangisi semua hal yang rasanya perlu untuk ditangisi. Namun kemudian, ia berpikir, airmatanya tidak akan cukup.

Di temani anak-anak hujan ia tersuruk.

Dan ia merasa seperti tidak akan pernah sampai ke ujung lorong yang sangat, sangat jauh.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2010 I'm mostly tired., All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger