Give up, or do it like a hell.

/ Januari 13, 2013 /
Beberapa hari ini, hidup udah kayak neraka.

Biasanya, aku bakalan mikir bener-bener kata atau kalimat yang bakal aku bikin postingan. Yah, emang aku tipe orang yang menye-menye banget. Aku suka kata-kata yang dirangkai bagus dan berkesan pintar; aku suka kata-kata yang diatur, berima, sehingga kesannya bagus; aku suka kalimat-kalimat bersayap yang metafor, jadi aku selalu berusaha untuk nulis dengan cara itu.

Tapi sekarang, kayaknya enggak, deh.

Aku pernah mikir, entah dulu lahirnya aku cantik kaya Putri Salju, atau jelek sampai mukanya rata kaya tanah, aku tetep anaknya mama sama ayah. Entah dulu waktu sekolah dasar aku pintar ataupun bodoh minta ampun menjelang idiot, aku tetep anaknya mama sama ayah. Entah aku nggak bisa masak, suka muntah kalau naik bis, suka coret-coret dan ngrusakin cat mobil atau sepeda, atau malas bersihin kamar, aku tetep anaknya mama sama ayah dan selamanya tetep begitu.

Tau, nggak? Sore ini mereka barusan ngomong sesuatu yang bikin aku nangis senangis-nangisnya: kalau aku menyerah, aku bukan anak mereka.

Secara nggak langsung, sih. Aku bilang aku suka metafor, kan? Tapi mereka nggak bilang dengan cara itu. Mereka nggak bilang dengan kata-kata konotasi, nunggu aku nangis, lalu bilang sama aku artinya bukan-anak-mereka itu apa. Mereka bilang dengan jelas, gamblang, singkat, mudah dimengerti, dan menusuk. Aku baru tahu rasanya kata-kata menusuk itu kaya gimana. Sakit banget.

Aku uda seriiiiing banget, dan sampe bosen nulis kata-kata give up, menyerah, berhenti aja. Bagiku kata-kata itu uda lebih deket daripada urat leher. Begitu dekatnya sampai rasanya selalu ada yang mengiang-ngiang di telinga. "Menyerah ajalah," atau "Menyerah lebih gampang," atau "Cukup sampai disini aja." Aku tahu itu salah tapi bahkan aku nggak tahu harus gimana lagi. Aku nulis kata-kata itu setiap saat.

Ayah bilang, berhenti karena diberhentikan orang lain, karena kita uda nggak mampu di mata orang lain, itu jauh lebih terhormat daripada menyerah karena kita mikir diri kita sendiri nggak mampu. Jujur aja, awalnya aku kaget. Itu beda banget sama pemikiranku selama ini. Aku selalu mikir, kalo kita berhenti karena kemauan orang lain, pasti semua orang bakalan mikir sama persis kaya orang itu. Kalo sebenernya emang kita nggak bisa. Kalo kita itu payah. Kita itu bodoh. Beda kalo kita mundur karena kemauan kita sendiri, kita bisa berjalan dengan kepala tegak sambil bilang ke orang-orang, "Aku berhenti karena aku nggak suka."  Dan aku baru sadar kalo hal itu konyol banget. Mikir kalo kita nggak bakalan keliatan idiot karena mundur dan nyerah atas kemauan kita, sama halnya kaya anak kecil yang jatuh dari sepeda karena nabrak tiang dan bilang, "Aku nabrak dan jatuh karena emang aku sengaja nabrak tiangnya." Konyol kan? Menyedihkan? Lebih menyedihkan lagi kalo kita menutupi betapa menyedihkan kita sebenarnya.

You've got two options: give up, or do it like a hell.

So, self-note: Be brave. You'll survive. Don't you dare to give up.

But what if it doesn't work out? Ah, but what if it does? :)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2010 I'm mostly tired., All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger