[ONESHOT] Too Young, Too Dumb

/ Agustus 10, 2015 /


kai/krystal. 1409 words. 
party!au. PG. Warning for unneccessary (not really) dirty words.

"..aku tidak bisa berurusan denganmu. Jadi, aku bersikap seolah-olah ini salahmu dan aku ingin punya alasan untuk menghindar darimu."


(Baby I just want you back, I want you back, I want you back.)




"Apa kau gila, atau kau ikut program sedot otak?" Jongin berbisik marah dan suaranya kabur di antara musik yang berdentum-dentum.

"Hahh?"

Chanyeol menelengkan kepalanya. Entah idiot atau tuli, tapi Jongin ingin menarik telinga gajah pria gigantis itu sampai putus. Mata pemuda setinggi Gunung Fuji itu tampak tidak fokus dan seringai lebarnya yang meresahkan membuat Jongin berdecak kesal saat sadar Chanyeol sudah masuk dalam alam mabuk-dan-baru-akan-sadar-besok-pagi. Ia ingin menghantam kepala Chanyeol dengan bass speaker yang dipasang Jongdae dengan tingkat desibel yang tidak manusiawi, saat pemuda itu mengangkat-angkat ibu jarinya dengan agresif.

Entah apa maksudnya. Jongin berjalan menjauh, bermaksud untuk menjaga kewarasan.

"Sehun-ah, ayo kita kembali."

Oh Sehun--yang sedang ngobrol (sok) asyik dengan gadis di depannya, menepis tangan Jongin yang berbisik dengan pelan dari balik bahunya. Jongin melongok. Ia menarik ujung lengan kaus Sehun dengan tidak sabar. 

"Tunggu sebentar," Sehun melemparkan senyum minta maaf pada lawan bicaranya. Ia merendahkan suaranya, hampir berbisik--lebih seperti mendesis. "Jongin, apa kau ingin dibunuh dengan kapak atau pisau dapur. Aku sedang mencoba pendekatan dengan Jinri, brengsek."

"Apa kau sadar aku akan mati sebentar lagi, sial," Jongin ingin menendang tulang kering kaki Sehun. "Dengar, Soojung disini. Oke? Aku tidak ingin melihat hidung dan rambut panjangnya yang menyebalkan. Duh. Si dungu Chanyeol tidak bilang padaku dia mengundang Soojung."

Sehun meninju pelan lengan Jongin. "Itu adalah hal paling konyol yang pernah aku dengar. Apa kau sedang mencoba pergi dari sini karena kau sedang bertengkar dengannya? Jongin! Kalau kau tidak ingin melihatnya, dia yang harus keluar dari sini."

Tangan Jongin bersilang di dadanya. "Kalau kau tidak mau menyingkir denganku dari sini, aku akan mengirim foto rambut hijau brokoli-mu ke semua alamat kontakku."

Sehun ft infamous broccoli hair *still handsome, fml



"Jongin!" Sehun kali ini berbalik penuh padanya. "Aku akan mengulitimu hidup-hidup setelah ini. Tapi, setelah aku ngobrol dengan Choi Jinri. Sial, apa kau tidak ingin lihat aku segera pacaran dengan ketua pemandu sorak? Aku menyukainya, jadi singkirkan pantatmu dari sini."

Sekelebat bayangan Soojung yang bergerak di belakang Jinri membuat Jongin kaget dan benar-benar menyingkir.

"Ayee, Jongin," Baekhyun meraih bahunya. "Kau mau soda, man?" Baekhyun mengangkat nampan berisi gelas-gelas soda dan menyodorkannya di depan hidung Jongin.

Jongin menepis nampannya. "Baek, setengah dari seluruh jumlah orang disini sudah mabuk dan kau menawariku soda? SODA?! Apa kau akan memberiku biskuit cokelat dengan kukis buatan nenekmu selanjutnya?"

Baekhyun mendesah. "Hh. Sudah kuduga. Tidak akan ada yang mengambil gelas soda. Kenapa aku bahkan repot-repot membeli coca-cola tadi sore."

"Jongin-ah, kau lihat Chanyeol?" Baekhyun masih merengut. "Orangtuanya akan kembali pukul delapan pagi dan rumah ini harus sudah ebrsih pada pukul lima."

"Dia sedang bertingkah sinting, seperti biasanya." Jongin mengeluarkan bunyi 'tsk' dengan mulutnya. "Hey, Baekhyun, bagaimana Chanyeol mengundang semua orang disini?"

Baekhyun menaikkan satu alisnya. "Pertama, teman-teman dekatnya akan datang kesini sekitar pukul delapan atau sembilan malam, fase pesta yang hangat dan menyenangkan. Lalu sekitar pukul sebelas atau mendekati tengah malam, orang-orang sepertimu akan datang, membuat keributan--yang menyenangkan!--dan sekitar pukul dua malam teman dari teman Chanyeol atau teman dari teman dari temannya aakan datang dan menghabiskan seluruh persediaan makan dan minum, setelah itu--"

"Apakah dia mengundang Soojung secara privat?" Jongin memotongnya.

"Soojung? Maksudmu, Jung Soojung? Bukankah dia orang-orang sepertimu," Baekhyun memutar bola matanya. "Seberapa mabuk Chanyeol untuk mengundang seluruh isi sekolah secara privat."

"Ah, oke, terimakasih." Jongin mengangkat telapak tangannya. "Aku ambil sodanya satu gelas, ya!"

**)

"Kau mabuk?"

Soojung membuka matanya, setengah tertidur. "Oh, kau tidak? Excellent."

"Aku tidak cukup bodoh untuk mabuk sepertimu sampai ingin tidur disini. Kau pikir aku akan tidur di sofa sampai orangtua Chanyeol datang pukul delapan pagi?"

Jongin menarik pergelangan tangan Soojung, gadis itu menepisnya. Adegan klise, pemuda itu ingin menarik-narik rambutnya yang sudah berantakan. Ada sedikit rasa canggung dan Jongin ingin berteriak 'APA YANG SALAH DENGANMU APA KAU PIKIR INI OPERA SABUN'

Nyatanya, Jongin hanya berkata,

"Aku antar kau pulang. Ayo pergi."

"Apa kau menggigau? Pergi dan pulang kemana, karena aku melihatmu datang dengan mobil Sehun."

Jongin meringis pada kalimat Soojung yang berantakan. Namun, ia tidak bergeming karena ini Soojung. Ini Jung Soojung dan ia sedikit mabuk. "Aku akan panggil taksi."

"Apa kau berpikir dengan ibu jarimu?" Soojung menguap. "Pergilah, Jongin. Ini masih pukul.." Gadis itu meraih ponsel dari saku celananya. "..2.53 PM. Apa kau akan dapat taksi atau layanan darurat tengah malam pada jam seperti ini."

Dan Soojung mengatakannya. 2.53 PM. Benar-benar abjad P (P untuk Pie apel dan Pagi yang cerah) dan M (M untuk Musang betina dan Menari salsa.)

"Soojung, kau mendengarku?"
"Tidak. Teruskan celotehmu--tapi jika kau ingin berisik seperti Baekhyun, silakan pergi."

Jongin ingin mengacak-acak rambutnya. Ia sangat ingin menghindari Soojung, dan sampai ia datang ke rumah Chanyeol tadi, ia melakukannya sebaik ia menghindar seperti Soojung mengidap penyakit campak menular. Tapi, ia tidak bisa bersikap seperti Soojung mengidap penyakit campak saat ia melihat gadis itu sedikit terhuyung-huyung mencari sudut yang sepi dengan sofa agar bisa tidur malam dengan nyenyak. Terutama karena ini Chanyeol. Terutama karena rumah Chanyeol sekarang penuh dengan pemuda-pemuda mabuk dan maniak.

Oke, yang paling terutama karena ini Soojung, dan Jongin tidak bisa pura-pura untuk tidak peduli berat padanya.

Pemuda itu merentet kesal. "Apa aku perlu men-dial unnie-mu?"

Soojung tiba-tiba berdiri di depan Jongin dengan sentakan sepatunya yang ekras, membuat kaget Jongin dan mundur selangkah. "Tunggu, santai, Soojung. Aku hanya--"

"HANYA SATU PERTANYAAN, KENAPA KAU TIBA-TIBA PEDULI, KAU BRENGSEK!"

"A-aku apa?!" Dua lapisan gigi Jongin bertemu dan alisnya naik. "Aku apa, mau kau ulangi, Soojung?"

"Oh, apakah tiba-tiba seekor unicorn bersayap terbang dan berak pelangi di atas kepalamu? Apakah kau memutuskan untuk jadi orang suci sekarang?" Mata Soojung terbuka lebar. Mabuknya hilang. Jongin merasa sebak dan dia menatap balik pada dua mata cokelat yang memandangnya dengan cara yang sama seperti seorang murid yang tidak terima diberi nilai D-minus--mungkin bukan memandang, melotot lebih tepat. "Hanya, kenapa kau tiba-tiba peduli padaku dan ini bukan waktu yang tepat. Aku sudah berjanji untuk mengabaikanmu malam ini."

"Oh, ya? Mengabaikanku? Smart move, Soojung, smart move. Kecuali kau tidak punya alasan untuk mengabaikanku."

"Ha. Kata seseorang yang tidak menyapaku sejak awal Senin tanpa alasan."

"Aku? Tidak menyapamu tanpa alasan?"

"Kau tidak bisa marah padaku, Jongin, oke, masukkan kalimat itu dalam otak lunakmu. Karena 1) itu adalah fakta; dan 2) fakta tidak berubah jadi opini hanya karena kau tidak menyetujuinya. Dan kau tidak menyapaku tanpa alasan adalah hal paling tolol kedua setelah unnie melarangku untuk mengecat rambut dengan warna pirang strawberry tanpa alasan."

"Aku tidak bermaksud tidak menyapamu."

Saat itu, kepala Park Chanyeol, menyembul dari balik dinding. Ia menyeringai lebar dan potongan rambutnya yang jelek membuat emosi Soojung semakin meningkat. "Hey, guys," ia melambai-lambai. "Aku baru saja akan lewat saat mendengar keributan dan, hey, Soojung-ah, pantat yang bagus."

Chanyeol the king of bad hair day

"Apa kau ingin aku menusuk perutmu dan mencungkil dua ginjalmu dari sana, Park Chanyeol?"

"Soojung, dia mabuk," Jongin risih mendengar kalimat psikopat Soojung. "Dan kau, Chanyeol, Baekhyun mencarimu."

"Ish, sogogi itu akan marah padaku karena sembilan liter soda yang dibelinya tanpa alasan." Chanyeol pergi dengan menggumam dan mengeluarkan keluhan bombardis.

"Yah, Kim Jongin," Soojung menyalak nyaring. "Apa masalahmu?"

"Aku tidak mengabaikanmu," Jongin mengambil jeda. "Tidak tanpa alasan."

"Dan alasanmu adalah?"

Jongin menggertakkan kakinya dan memalingkan wajah dari Soojung. "Soojung, dengar, aku tahu Taemin menyukaimu. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk dekat denganmu saat aku tahu dia bilang suka padamu."

Soojung hanya menatap Jongin, walapun matanya meneriakkan 'Apa?!' dengan mode tebal, miring, dan digaris bawah.

"Soojung, apa kau bodoh," Jongin menutup matanya. "Aku tidak bisa berurusan dengan seberapa banyak aku menyukai hari minggu bersamamu dan memesan es krim lalu menonton film dengan popcorn, itu berarti aku tidak bisa berurusan denganmu. Aku tidak bisa berurusan dengan bagaimana Taemin menyukaimu karena dia lebih tampan dan keren dariku. Itu berarti aku tidak bisa berurusan denganmu. Jadi, aku bersikap seolah-olah ini salahmu dan aku ingin punya alasan untuk menghindar darimu."

"Jongin," Soojung menggeram marah. "Potong semua omong kosongmu. Aku tidak percaya kau menghindariku karena hal bodoh dan kecil seperti itu."

"Sekecil itu?!" Jongin membalas kemarahan Soojung, yang anehnya, terasa menyenangkan setelah ia menahan semua emosi anehnya sejak hari Senin saat ia mulai mengabaikan Soojung. "Kau akan lihat seberapa 'kecil' hal itu saat kau mulai membeli es krim dan menonton film dengan popcorn, dengan Lee Taemin dan bukan denganku."

Jongin segera menjauh. Memalukan, apa dia baru saja mengomel? Seperti.. seperti ibunya mengomel atau noona-nya mengomel?

"Aku bilang 'tidak', Jongin." Suara Soojung terisak. Jongin membalikkan badannya dan Soojung cengeng membuatnya sedikit khawatir.

"Apa?"

Soojung mengusap air matanya. "Aku bilang 'tidak' pada Taemin saat dia bilang apakah aku mau jadi pacarnya--karena aku menunggu untuk bilang 'ya' padamu, kau udang bodoh!"

-end-


a/n: ikr, ikr! those pictures burn our eyes ahahahhahahah. here is the neutralizer<3<3


and here is another fanfiction for my otpforlyfee<3 why do i love kaistal so much, gadh. if you read this, leave some love for kaistal (and me! wahahha)


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2010 I'm mostly tired., All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger