Tampilkan postingan dengan label drabble. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drabble. Tampilkan semua postingan

[DRABBLE] Endings

/ Juni 19, 2014 /

f(x) Krystal/Exo Kai; 640 words; romance, fluffy



"Watch the sunset and tell me again 
how endings can't be so beautiful.."


“Menyedihkan sekali sendiri di sini,”

Pemuda itu bertelanjang dada–rambut dan tubuhnya masih basah dan ia berbau seperti garam laut. Tanpa bilang permisi ia duduk di sebelah Soojung yang melongo di bawah langit berwarna oranye dalam dan motif semburat-semburat kapas yang warnanya lebih tua. Kulitnya yang sedikit gelap memantulkan warna langit itu lagi; Soojung menahan nafas sepersekian detik (seperti ia menghitungnya tanpa sadar) karena ia ingin menancapkan pemuda itu Kota Firenze, menggantikan Patung David. Ombaknya berdebur dan menyentuh ujung jari-jari kaki Soojung. Indah. Cantik.

(walau dalam jutaan, bahkan miliaran tahun cahaya Soojung tidak akan mengatakan bahwa pemuda itu memabukkan di bawah matahari yang hampir tidur.)

Menyedihkan,” Soojung menyeringai. “Coba ceritakan lagi padaku menyedihkan itu apa.”

Lalu Soojung kira bocah itu akan terbahak keras, karena pertanyaan bodohnya, dan karena hanya orang bodoh yang menanyakan pertanyaan bodoh. Setelah meneguk satu tenggakan coke dari botolnya, pemuda itu mengangkat bahu.

“Seperti kau,” (tanpa menoleh.) “Seperti kau yang duduk disini tidak tahu apa. Seperti akhir film yang sedih–tidak berarti aku suka menonton film semacam itu.”

Soojung menggigit bibir, anak rambutnya terbang perlahan. “Apa akhir sedih itu selalu menyedihkan.. Kim Jongin?”


**)


Lalu besoknya Kim Jongin (yang berkeras dipanggil Kai–tapi hey! Namamu Kim Jongin! Begitu Soojung akan berteriak) duduk lagi di tempat yang sama menunggu matahari untuk tenggelam lagi setelah puas berenang di air; dan tubuhnya akan berbau seperti garam laut. Lagi. Soojung pura-pura menguap melihatnya datang.

“Kapan kembali ke Seoul?”

Soojung nyengir. “Takut merindukanku?”

(ia tidak bercerita sebagian dari dirinya ingin meninggalkan Seoul selamanya. Sebagian dari Seoul-nya ada di cottage–ponsel, laptop, dan jurnal jadwalnya.)

Mereka berdua tetap duduk disitu sampai paling tidak pukul sembilan malam. Soojung suka bercerita tentang pekerjaannya, pelatihnya, fansnya, pita suaranya, latihannya, dan gerai pizza favoritnya. Jongin suka bercerita tentang video game, papan surfing, kimchi pedas, pembersih lantai dan Soojung mengerutkan kening sepanjang waktu karena ia adalah pemuda yang acak.

Saat matahari benar-benar tenggelam, Jongin berubah dari pengamat makanan berlemak menjadi penasehat cinta. Bisa dihitung tangan hubungan yang berakhir seindah matahari terbenam, katanya.

(dramatisasi, batin Soojung.)

Tapi, setidaknya walau berlebihan, Soojung setuju. Lagipula alasan dasarnya ia berada di sini juga tidak jauh-jauh dari akhir yang pahit. Karena tidak semuanya berakhir baik, dan walaupun rasanya seperti sesak dan terbuang ke Planet Uranus, setidaknya ia percaya tidak ada hal yang permanen. Tidak juga rasa sakit. Sebagian dari Soojung sulit menerima ada bagian yang hancur baru satu minggu lalu dan sekarang bagian itu sudah sepenuhnya pulih. Begitu cepat. Lalu sebagian lagi dari dirinya menolak keras hal itu ada hubungannya dengan romansa musim panas, Kim Jongin.

“Tidak ingin kembali ke Seoul.”

Jongin menoleh kaget. Soojung menyeringai. Butir-butir pasir menempel di dahi dan pelipisnya, dan lengannya dan lebih banyak di telapak tangannya. Matanya membulat dan Soojung bertanya, mana yang lebih bulat daripada bulan tanggal limabelas.

“Gila, lalu siapa yang bayar kartu kredit dan tagihan apartemenmu? Malaikat lotere?”

Soojung cemberut.


**)


Sore itu Kim Jongin menolak duduk. Ia berdiri di ujung pertemuan antara ombak laut dan pasir putih kecoklatan. Rambutnya kecoklatan ditimpa matahari tenggelam.

“Salah satu hal yang berakhir dengan baik disini,” Jongin tersenyum. “Adalah hari.” Lalu ia menunjuk ke arah barat. Sulit bagi Soojung untuk tidak setuju padanya saat matahari yang sudah separuh tertelan warnanya kuning keemasan seperti inti telur ayam setengah matang. Gadis itu mengangguk-angguk.

(tidak ia ceritakan hari adalah satu hal yang berakhir buruk di Seoul–pub dengan musik berdentum-dentum dan sebagainya.)

“Tahu apa pemuda pantai seperti Kim Jongin.” Soojung mendesah pelan. Tertawa kecil.

Jung Soojung berdiri dan sedikit maju sehingga air pantai menyentuh kaki, telapak, dan jari-jarinya. Ia ngeri sendiri bagaimana matahari terbenam bisa menjadi akhir yang begitu bagus, berbagai arti di atas bagus. Indah.

“Kau tahu apa yang lebih indah?”

Soojung menoleh. “Apa?”

“Awalnya,” Jongin tersenyum simpul. “Besok, Jung Soojung, besok kita lihat awal hari di suatu tempat dan ayo buktikan sebuah awal tidak kalah bagus dengan sebuah akhir.”

-end-


Prompts and how I half cooked them.

/ Mei 27, 2014 /
Due to the writer's block annoys me lately, I went to oneword.com and picked some words. It was supposedly say I've to write in one minute or less but who cares?

Anyone else wonder why it has to be 12 words? :p  /geurae ulf, naega ulfffffff.../ Forgive my english, I murder it! Bonus at the end!




#1 Cold

I thought winter, snowstorms, and icebergs are really cold things. But now, thinking about it again, if I happen to make a comparison, they're nothing compare to your cold eyes. If ice has a personality, it would be nothing cold against yours.

//

#2 Belated

HIS CARD:
I did not forget your birthday, sweetie, I SWEAR! It just came to my mind that saying "Happy Birthday" to someone on their D-Day is kind of mainstream. So here it is, happy belated birthday, sweetheart.

HER CARD:
What kind of bull that belated birthday card is!

//

#3 Defined

What can we define about a person pretty well beside their name? It could be an adjective like 'beautiful', 'honest', 'cute', 'jerk' or 'young'. But even the word itself hasn't defined yet. A person isn't  a long hair or tanned skin, or strong jawline, or manicured nails. A person is neither a black nor a white. A person can never coming to well-defined.

//

#4 Struggle

"No, no! Listen to me. You thought I can never grasp the concept of a struggle just because my money works better than yours. What a messed way to think it is. For me, real struggle isn't trying to find any money to pay my bill. It is not searching all the possible way to prevent me from death because of starving and have nothing to eat. My real struggle is trying to come closer to you inch by inch, when you keep moving away from me meter by meter."

//

#5 Unplanned

But, just for you know, I sincerely glad I fall unplanningly for you. That I genuinely happy that our met is unplanned; our second met is unplannded; our date is unplanned; our love is unplanned. And now that I say everything at this exact moment, every word by word is also unplanned. Something so beautiful about being raw and young--untouchable yet like this.

//

#6 Counted

You count your feeling towards people the way you count numbers and that's why society never works on you. It is not something to be counted. Want to know why? Because it's like infinity. Double it, multiple it, divide it, plus it, minus it, it is still an infinity.

//

#7 Elevator

Silly and weird and idiot as it may sound, but I enjoy you 8 seconds company to the 11th floor at exactly 9.25 in the morning. What a moment. Just quiet, a little dizzy, and makes me comfort--because I know none of us has to say nothing at all. But I want you to know, I really do, that I count how many ups (or downs at 4.15) elevator that it takes to make me brave enough to start to say a simple "hello" to you.

//

#8 Comma ( , )

I want to tell comma that I love her, and that I understan dot ( . ) is such a big jerk. I want comma to know she's the most beautiful punctuation. I want to tell her that she helped people understand what others are trying to state way better. I want to tell her, what a nice creation she is, separated the line between "We killed that baby!" and "We killed that, baby!" Such a wonderful creation she is saving people from misunderstanding. I hope she doesn't die from sadness because people always underrated her and overrated dot. Oh, comma! I like you! Are you even friends with any other punctuation marks?

//

#9 Meanwhile

She thinks what an ugly wavy hair she has and how ugly the color is. Her nose is such on a wrong position and her lips don't curve the way they should. Her height isn't fit enough and her weight is so much worse. Her voice is nothing better than the sound chalk makes when it scratches the board. Her whole appearance is like a wrong mechanism and she considers it as mistake.

Meanwhile, undoubtly, he falls for her imperfection and thinks it's beautiful.

//

#10 Sandcastle

Let me build a sandcastle to be our home. You'd be showered by sunshine and bathed by salt water. Let the stars on certain night be your television. The wave is your celebration. nature's way to say hello to you and the seaweed will be your beautiful crown. You don't need that hat, the ray won't hurt you and the seashell's sound you hear won't betray you. Look at the open sky, look how they smile for you, warmly and nicely. I'll kiss you goodnight and I'll kiss you good morning. I'll show you my world, and promise me, you'll show yours.

//

#11 Hero

You think you don't look like hero but I think you look like one. Your eyes don't say it but I can see it. Your ears don't mean it but I can hear it. Your lips don't say it but I can assume it. Your gestures don't show it but I can feel it. Your heart, is burning, and that's the only thing can confirm that you're a hero and I wish you help the right people even just once. You're not being hero to be loved, supported, or shouted, You're being hero simply because someone somewhere out there needs you to be.

//

#12 Genetics

In lucky times, when she was in a good feeling,
"You're good like that! Thank God for your nice personality, your beautiful eyes, and your perfect smiles. You got that from me. Genetically, you're the most person I look alike... You're good like that! You're wonderful and people must thank me for your amazing DNAs. You're good like that! I won't let anyone hurts you."

And the unlucky times, when she got a bad feeling--which is the majority of the times,
"Why were you even born, b*tch!"


**)


This should be the 13th, but since it's a bonus, I made something.. something different. From a word "Festive" someone made another wonderful prompt, thanks for the writer, whoever you areee :p




However, I'll change it to Kaistal, my forever OTP I love theeeeeem xD *squish them*

Kai walked around aimlessly. It seems that everyone was having a fun time at the celebration of their SM Week's success and he wanted to join in but he was too busy looking for a very important redhead.



Festive // Kaistal.


"Kau! Tadi aku bersumpah akan menyentil dahimu dengan menyakitkan jika sudah menemukanmu!"

Musik berdentum-dentum terdengar lebih sepi disini; dan Kim Jongin bertanya-tanya kenapa ada orang yang mau menyendiri di gudang botol minuman saat ada pesta meriah di ruang utama.

"Berdirilah. Kau harus coba bebek peking-nya. Luhan hyung bilang dia akan kesulitan menemukan bebek peking selezat itu, bahkan di China. Kau juga harus mencoba--"

"Jung Soojung, demi Tuhan yang menciptakan ayam goreng dan bebek peking, apa kau mabuk?"

Kepala merah itu mendongak. Tersenyum kecil dan matanya terbuka menyipit.

"Presdir akan memarahimu habis-habisan kalau tahu kau seperti ini! Kau mau kupanggilkan kakakmu?"

Hanya balasan sepi yang didapatkan Jongin. Ia berlutut diam dan menyibakkan rambut menyala itu. Lalu ia mengacak rambutnya sendiri dengan bingung karena bintang dan bulan dan Planet Jupiter boleh mabuk, tapi jika ini artis SM, makan CEO tidak akan memaafkannya: apalagi ini Krystal dan dia masih 20 tahun! Harusnya dia tunggu setahun lagi.

"Atau kau mau aku panggilkan Victoria?"

Pemuda itu berdiri.

"Jangan!" Ia berteriak dan memegang pergelangan tangan Jongin. "Jangan, jangan. Tetap disini.. kau, uhuk, bodoh.."

"Benar-benar mabuk rupanya. Issh, aku bahkan lebih tua beberapa bulan darimu."

Jongin terduduk di sampingnya.

"Jongin-ah, aku akan tidur. Tutup mulutmu." Lalu kepala merah itu bersandar di bahu Jongin. "Sejak kapan bahumu menjadi lebar? Apa kau rajin main.. hoahm, basket atau baseball sekarang?"

Jongin meraih segelas minuman berwarna bening dari sloki. Lalu ia memejamkan mata.

"Aku tadi mencari rambut merahmu dimana-mana. Aku takut kau tiba-tiba mengecatnya jadi coklat lagi. Tetaplah begitu, aku ingin.."

Mata Jongin rasanya berat dan ia menguap. Dengkur gadis di sebelahnya terdengar lumayan keras.

"..tetap mudah menemukanmu. Tidur nyenyak, Jung Soojung."

**)

[DRABBLE] Lie

/ Februari 23, 2013 /

LIE
Oneshot; Chaesoo couple (OC); Angst (?); AU, OC


Mungkin Chaerim memang sudah tidak menyukainya lagi.

Sejak kapan? Entahlah. Mungkin sejak mereka sudah tak pernah saling menyapa. Mungkin sejak mereka sudah tidak pernah bercanda bersama lagi atau sejak mereka tidak pernah mendiskusikan ini dan itu yang tidak penting. Mungkin sejak mereka sudah bosan satu sama lain. Mungkin sejak mereka tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersama dan rasanya hampir normal berjalan sendirian dan tidak mengirim pesan, menelepon, atau saling bergandengan, atau saling mengejek.

Pertanyaan itu terlalu mudah. Waktu itu menyembuhkan--jika kau adalah seseorang yang hatinya sakit karena seseorang membuatnya begitu. Namun sekaligus waktu membuatmu lupa sesuatu yang dulunya kau suka. Waktu membuatmu tak peduli lagi pada sesuatu yang dulunya kau cinta. Waktu itu banyak sifatnya. Tak bisa hanya kau rangkum dalam satu kata.

Mungkin kini pemuda itu sudah tidak menarik. Mungkin ia sudah tidak tertawa pada leluconnya dan mungkin ia dan pemuda itu sudah tamat riwayatnya. Kisah mereka yang bergantung padanya. Mungkin sekarang ia sudah tidak lagi mencintainya seperti ia sebelumnya.

Perhaps they're going to some ways wrong and none of them would've back to where they used to be. Perhaps it isn't what they call 'love' anymore.

Or perhaps, she's just really good at lying.

-END-

a/n: Fanfic yang mengandung tiga unsur: 1) Gak jelas 2) Gak jelas dan 3) Gak jelas.
Apa kata deh ya. Pernahkah kamu membohongi dirimu sendiri? Apakah rasanya sakit? *puitis dikit*  Ini note apasih? -_-

[DRABBLE] Super Junior's Compilation #1

/ November 11, 2012 /

A/N: A bunch of Super Junior. First compilation. That's all. 
First fic dedicated to Fishy! Donghae's out there. lol.
Second fic, hey, Kyuhyun's mine but I'll share this one with you.
And last, maybe not the last, just Hyukjae. Oh my Kyu! Not biased much, but admit it, he's getting hotter day by day!
And finally! Added Sungmin to the list! Ah x) He's just as adorable as Kyu.
The last one is Leeteuk's. Don't you, guys, miss him? Cause I've already do. :'( We'll wait you uri Leader. Loveyaa.
Enjoy! 

**)



1. Sing to Marry U


Hari ini hujan turun begitu deras. Sangat deras. Sampai-sampai bunyi cerek yang airnya mendidih tidak bisa meredakannya. Sampai-sampai apabila kau memainkan piano, bunyinya akan terdengar seperti perpaduan. Harmonisasi. Begitu manis.

Di salah satu apartement kelas menengah di kawasan kota Seoul, kamar nomor 602, sepasang pasangan sedang menonton drama musikal broadway lama, Beauty and The Beast. Sengaja volume tidak dipasang terlalu keras.

“Oppa?”

Mereka berdua cuddling dibawah selimut. Suara hujan deras di luar nampaknya tidak akan reda dalam beberapa jam kedepan.

“Hmm,”

Pria itu Lee Donghae. Rambutnya cokelat dan wajahnya sangat kalem. Ia sedang mengantuk. 
Kang Yoori, kekasihnya bersandar di punggungnya, dan Donghae menyandarkan kepalanya di atas kepala Yoori.

“Kenapa kau bisa menyanyi dengan bagus?”

Lee Donghae menjawab dengan mata terpejam, “Entahlah.”

“Kenapa kau mengantuk terus? Jawab pertanyaanku,” Yoori meninju lengan Donghae. 

Pemuda itu membuka matanya setengah-setengah.

“Memangnya kenapa, Jagi?”

Yoori mendesah, “Karena aku tidak bisa menyanyi dengan bagus.”

“Benarkah? Kata siapa, eoh?”

“Kataku, tentu saja!” Yoori menggertak selimutnya. “Suaraku cempreng dan guru seni sekolah dasarku bilang aku tidak pernah bisa membidik nada dengan benar. Suaraku jelek, Oppa. Aku tidak bisa menyanyi.”

Kali ini, mata Donghae terbuka lebar. Ia tertawa kecil dan memutar kepala Yoori agar menghadap ke arahnya. Mata coklat itu melebar, dan bertanya-tanya.

“Seseorang tidak harus punya suara bagus untuk bisa menyanyi,” Donghae mencubit pipinya. 

“Sama seperti menulis. Kau tidak harus punya tangan yang bagus untuk menghasilkan tulisan berkualitas.”

Yoori mencebik. “Itu, kurasa beda lagi, Oppa.”

“Apanya yang beda, sih?” Donghae menggoda. “Biar kutunjukkan cara menyanyi yang benar.”

Until the day your black hair turns grey
I promise to love you forever

I want to tell you every single day that "I love you"
Would you marry me?
I want to live loving you and cherishing you

I want to put you to sleep in my arms every night
Would you marry me?
Will you give my heart this permission?

–Marry U, Super Junior

-END-





2. Me and Cho Kyuhyun



Kyuhyun adalah tipe orang yang melihatmu mengantri membeli es krim di musim panas selama dua jam, lalu merebut es krim itu tanpa merasa bersalah, lalu mengembalikannya padamu. Ia adalah tipe pemuda yang tanpa peringatan melempar bola salju padamu, dan berlalu tanpa mau meminta maaf walau kau bilang lemparannya sakit.

Ia adalah pemuda yang mengacung dan menanyakan pertanyaan bodoh di kelas Biologi, lalu ditertawakan semua orang. Namun, ia juga pemuda yang sama saat ia memperlihatkan kertas ulangan Aljabar yang dinilai A+ di kelas matematika dan menjadi satu-satunya murid dengan nilai sempurna.

Pemuda itu adalah orang dengan loker berantakan, dan tasnya tidak tergantung dengan benar. Hoodienya kebesaran dengan cara yang keren, dan rambutnya berantakan dengan begitu alami. Terkadang ia juga orang yang menghabiskan makan siangmu, dan dengan polos berkata bahwa ia kelaparan. Atau ia juga pemuda yang suka menempel macam-macam emoticon aneh di pintu lokermu dan mengakhirinya dengan tulisan –kyu.

Namun, sekaligus ia juga pemuda yang berani berteriak “Aku sayang padamu!” keras-keras di hallway kepadamu. Membuat semua pemuda tertawa dan semua gadis iri kepadamu.

Dan kau tidak tahu harus bagaimana. Merasa sial karena punya kekasih seperti iblis, atau merasa beruntung karena kekasih iblis-mu itu tampan dan begitu meyayangimu.

“Denganmu rasanya seperti bermimpi dengan mata terbuka,” Ujarmu suatu saat.

Dan ia merasa senang. “Benarkah? Mimpi seperti apa?”

“Mimpi buruk.” Lalu kau tertawa. Ia memberengut dan kau tidak tahan dengan ekspresi lucunya. Sejenak, ia ikut tertawa.

Ia juga tipe orang yang akan mencium pipimu dan bilang bahwa ia begitu menyayangimu, dengan cara yang sederhana. Bahkan setelah kau bilang dia adalah mimpi burukmu.

Dan kau? Kau adalah tipe orang yang balas menjawab “Aku juga mencintaimu,” saat ia bilang “Aku mencintaimu. Begitu mencintaimu.”

-END-






3. Wrote Down What I Couldn’t Speak Up



“Hey, kau.

Kenapa kemarin pulang sendirian? Aku menunggumu. Takut-takut kalau kau tidak suka naik bus di hari hujan. Kau tahulah, tidak bawa payung. Masalah klise. Aku mencarimu dan ternyata kau sudah pulang. Heh.

Jangan lupa nanti kita bertemu di kelas musik, setelah jam makan siang. Kuharap kau membaca surat ini sebelum makan siang, jadi tidak terlalu aneh saat aku mengingatkanmu tentang kelas musik nanti.

Ehm. Apa lagi, ya?

Kalau nanti hujan lagi, pulang bersama, ya? Kau boleh pinjam jaketku kalau kedinginan. Ya, hanya bila hujan, sih :P Atau kalau tidak hujan, kita mampir ke Kona Beans. Kali ini kau yang traktir. Nanti, bila kau ingin ramen, aku yang traktir. Kita cari tempat yang murah. Haha. Bercanda ^^ Aku yang traktir.

Ibuku menanyakanmu. Katanya, kau bisa makan teokpokkie di rumah kami lagi. Ibuku mengundangmu. Dengar, kau harusnya senang.

Nah, kau pasti bertanya-tanya untuk apa aku menulis surat konyol seperti ini?

Aku cuma ingin menulis apa yang tidak bisa aku bilang padamu. Secara langsung, maksudku. Jadi kau pasti tahu aku memang tidak pandai berbicara. Apalagi menulis seperti ini. Aku hanya pandai bernyanyi dan menulis lagu *eh

Hm. Jangan tertawa, ya, Sunnie. Tapi kurasa aku menyayangimu.

Aku baru sadar saat kemarin hujan. Dan aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.

Ya, aku menyayangimu. Aku hanya ingin bilang itu saja.

-LeeHyukjae

–ditulis di kertas notes berwarna kuning, dua halaman, dilipat jadi empat dan dimasukkan ke loker Hyesun. Dibaca tepat saat bel makan siang berbunyi.

-END-





4. Did The Captain of The Titanic Cry?


Terkadang, ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara alamiah.

Seperti bagaimana caramu pertama kali mengikat tali sepatu? Apakah kau membuat simpul mudah atau simpul mati? Kenapa ibumu menyukai warna hijau? Mengapa kelinci tidak bersendawa seperti unta? Siapa yang menggantung bintang di langit? Kemana rasa haus yang menghilang saat hujan turun?

Atau, kenapa sekarang kau tidak ada disini?

Untuk yang satu itu, aku butuh jawaban. Tidak bisakah seseorang memberitahukannya padaku? Suatu alasan–satu yang masuk akal. Bila kau atau seseorang menanyakan padaku, mengapa aku bertanya hal seperti itu, aku punya jawabannya. Karena semua orang boleh hilang asal kau tetap ada. Semua orang boleh menjauh asal kau tetap dekat. Semua orang boleh berkata benci asal kau tetap berkata sayang.

Pokoknya, semua orang boleh mencintai orang lain. Tapi kau, hanya aku yang boleh kau lihat, kau pandang, kau dengar. Cuma aku. Egois? Terimakasih. Itu cara yang digunakan manusia untuk bertahan hidup.

Sekarang cepat kesini. Sudah kubilang semua orang boleh disana, asal kau tetap disini.


**)

“Ha. Aku cekikikan seperti orang sinting sekarang.”

Sungmin cemberut. “Maksudnya?”

“Oh, Lee Sungmin! Harusnya aku yang bertanya, anak bodoh.” Youngmi mengatupkan bibirnya. “Aku tidak mengerti arti suratmu. Jelaskan padaku. Apa artinya?”

“Aku tahu kau tahu artinya.” Sungmin mendesah. “Jadi jangan membuatku menjelaskan hal-hal yang tidak penting seperti itu. Sudahlah, aku ada kuliah dengan Professor Kim jam dua siang.”

Sungmin meraih ranselnya dan pergi. Begitu saja. Meninggalkan Youngmi dan suratnya. Youngmi yang bengong. Dan suratnya yang lusuh. Tidak ada yang benar tentang hal ini, Sungmin menggumam dalam hati.

“Tunggu! Hey, Lee!”

Sungmin menghentikan langkahnya. “Apa?”

“Kau benar. Aku memang tahu arti surat ini.” Youngmi menggesekkan sol sepatunya dengan tanah. “Yang tidak kutahu, untuk siapa kau hendak mengirimnya?”

“Ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara alamiah,” Sungmin mengutip suratnya. “Tapi untuk pertanyaanmu satu itu, kurasa aku bisa menjawabnya.”

“Benarkah?” Mata Youngmi berbinar seperti apel di musim panas.

“Ya. Kau.” Sungmin menjawab pendek. Lalu menjauh.

-END-





5. Hang On and Fly...

“No one said it’d be easy.” 
“Agreed. No one did. But also, no one said it wouldn’t be worth it, did they?” 
**)

Yoonseung tidak tahu bagaimana harus menggambarkan mata malaikat itu. Hipokrit? Munafik? Yang jelas, dua kata itu tampak dingin dan menjijikkan. Sungguh tidak pantas dipakai untuk melukiskan dua mata coklat itu. Apalagi senyumnya. Sungguh jauh dan tidak santunlah orang yang menggunakan kata-kata itu untuk mewakili tarikan bibir dengan warna buah persik yang kemerahan. Yoonseung tersenyum lemah, meskipun ia benci.

“Malaikat tidak boleh berbohong,” gadis itu mengedipkan sebelah matanya, sedikit menggoda. “Apalagi yang tidak punya sayap. Punya hak apa ia sampai boleh mengatakan hal-hal yang tidak jujur?”

“Aku SUDAH mengatakan hal yang sebenarnya,” malaikat itu mencebik. “Aku senang seperti ini. Semua hal membuatku bahagia dan aku mencintai pekerjaanku. Semuanya.”

Sekarang malaikat itu tampak lebih tidak jujur lagi. Air mukanya sendu, seperti langit musim gugur yang membawa hujan dan anginnya yang menerbangkan dedaunan. Fisiknya seperti The Great Wall of China, tapi hatinya seperti salju musim dingin di akhir bulan Februari–begitu siap mencair. Kata-kata yang tidak keluar dari mulutnya sebenarnya terlihat jelas dari gerakan tubuhnya. Ragu dan begitu rapuh. Ia seperti ranting ek yang sudah tua dan mendung membuatnya gelisah.

Yoonseung menajamkan mata dan telinganya. “Kau tahu aku mencintaimu.”

Malaikat itu menangis dan airmata sucinya jatuh seperti anak hujan yang lelah oleh dinginnya awan di atas sana. “Baiklah, aku mengaku. Semua hal ini membuatku gila.” Sesekali sesenggukannya terdengar dan Yoonseung memeluknya. Erat. “Aku tidak boleh menangis, Jagiya~ Namun aku lelah. Aku adalah orang pertama yang diharapkan untuk sebagai orang terakhir yang berdiri tegak. Apa sebenarnya yang aku tangisi?”

“Dengarkan aku,” Yoonseung mulai ikut menangis namun ia menahannya. Menahan airmata dan rasa sakit saat melihat malaikat itu jatuh. “Kau, Park Jungsoo, adalah malaikat. Aku menyayangimu dan juga seluruh dunia begitu. Dan kau akan terbang–dengan atau tanpa sayap.”

-END-





p.s: Nah, what do yall think? Ngebosenin, yah? Apalagi bagiannya Sungmin. Ide uda notok jedok. Sorry, Ming -_- Plotnya juga semua sama. Intinya Super Junior's confession. Pict cr: weheartit.com, each of them belongs to their owners.

Yauda deh. Big thanks and muaah :*

[DRABBLE] I'd Learn to Say I Love You

/ Oktober 26, 2012 /
"Aku tidak suka Dongsoo yang seperti ini."

"Trus? Masalah buat lo?"

Krik~ Krik~

-END-

Eeh, bercanda. Tau tuh, akhir-akhir ini Lee Dongsoo evil banget. Suka deket-deket Kyu sih. Mari kita cium, eh, kita kaplok bersama-sama readers! *dibunuh SparKyu

Taulah mau nulis apa. Sudah dibilang saya lagi random. Arg.


I'd Learn to Say I Love You
Drabble; OC-pairing (Chaesoo Couple); Romance


Sedetik. Setengah detik.

Nah, aku kedapatan sedang memandangnya lagi. Bodoh. Aku sungguh-sungguh merasa bodoh. Namun aku selalu melihatnya lagi. Dan selalu ketahuan lagi. Beruntungnya Han Chaerim, pemuda itu tidak pernah komplain atau memarahiku tentang apapun. Padahal, jika aku berada di posisinya, aku akan melabrak diriku sendiri dan merasa tidak terima.

Tapi kenyataannya, Dongsoo, pemuda itu, tetap duduk tenang sambil mendengarkan kelas Literature Nona Bong dan sesekali mencatat sesuatu.

Tidak. Dongsoo itu menyebalkan. Dia selalu mengejek kemampuan olahragaku yang pas-pasan dan nyengir seperti kuda poni hitam milik Jonghwa saat mendapatiku dapat nilai C minus di kelas Aljabar. Dia selalu tertawa melihat tulisanku yang tidak bisa dibaca di papan tulis. Dia selalu mengatakan rambutku tidak terikat dengan benar. Dia selalu mengatakan tali sepatuku tidak pernah terikat dengan benar dan menginjaknya dengan sengaja, walau aku tidak sampai jatuh. Dia selalu melakukan hal-hal yang aku benci.

Anehnya, kurasa hanya perbuatannya yang aku benci.

Kelas Sejarah berlalu dengan cepat. Tidak terasa. Mungkin karena aku merasa mengantuk. Aku harus cepat-cepat ke bawah dan mengambil catatan Fisikaku di loker. Lokernya berada tiga lantai di bawah kelas ini, terimakasih Tuhan. Aku sudah merasa capek bahkan sebelum melangkah.

"Hey, kau."

Tasku ditarik seseorang. Kurang ajar.

"Tas ini berat, jadi jangan ditarik sembarang.."

Lee. Dongsoo. Hai. Mau apa? Aku harusnya mengatakan hal-hal semacam itu, tapi aku malah terdiam dan merasa gelisah. Sangat gelisah.

"Kau," Dongsoo mencengkeram kardigan Daego-ku. Hal itu membuatku semakin gelisah. "Aku tahu kau memandangiku sepanjang Kelas Sejarah. Dengan cara yang tidak biasa."

Rasanya seperti mati. Tidak ada udara. Tidak ada oksigen.

"Iya, kan?"

Tidak ada udara. Tidak ada oksigen. Ah, ini dia. Aku menarik nafas. Kuberitahu, wajah Lee Dongsoo tampak menyeramkan saat berbicara serius dan kali ini dia tampak menderita serius-disorder, jika ada penyakit seperti itu.

Aku hanya bisa menjawab, "Aku tidak bermaksud.."

"Katakan padaku, kau suka padaku, bukan begitu?"

Aku tercekat. Dongsoo-ya, pasti dia sedang main-main. Rasanya seperti ingin menangis. Rasanya seperti ada yang menggumpal di tenggorokanku.

Rasanya seperti diberitahu bahwa roti gulung yang tadi pagi kau makan ternyata sudah busuk dan disimpan di lemari selama tiga minggu.

Ekspresi Dongsoo melunak. "Karena aku juga akan mengatakan bahwa aku menyukaimu."

**)

A/N: E-e-electric E-e-electric shock *nyanyi Electric Shock bareng Krystal*
Nah, gimana? Unsur ketidakjelasannya benar-benar jelas namun sulit dijelaskan karena penjelasannya tidak begitu jelas kan?
Aduh. Saya bingung dengan saya sendiri. *readers: "Apalagi kita nyet! Sarap lo, ya?"
Terserah mau ngomong apa. Kali ini semua terserah.. *Glenn Fredly dateng
Cukup. Hentikan. Serius. Ini FF terinspirasi dari seorang teman, ceritanya unrequited love, belom dinyatain sih. Harapannya bisa jadi cinta beneran *peluk Meyrinda X-3
Dan semoga cinta kisah teman kita yang satu itu berakhir dengan ending seperti Chaerim dan Dongsoo dalam FF ini. Semoga juga Dongsoo-nya teman kita tidak sejahat Lee Dongsoo punya saya. Dan info juga: FF ini judulnya couple-an sama FF di bawahnya. Check juga yah!
Wah, baru sadar FF sama note-nya panjangan note, ya? Yauda deh. Sekian wassalam. Muah buat readers ^^

[DRABBLE] I'd Learn to Say I Hate You

/ /

I'd Learn to Say I Hate You
Drabble; OC; can't-figure-out-what-the-genre-is


image source here

Mereka bilang, benci adalah kata yang terlalu keras. Yang tidak mereka tahu adalah, cinta juga merupakan kata yang keras dan mereka menebarnya sembarangan seperti kata itu tidak berarti apa-apa.

**)

"Kau membenciku?"

Bagaimana jika iya? Apakah kau senang jika aku menjawabnya dengan jujur?

Kebanyakan orang, seperti yang kutahu, selalu mengatakan 'Aku lebih suka jika kau tidak menyukaiku dan langsung mengatakannya di depanku. Aku tidak suka kau membicarakannya di belakangku. Aku tidak suka blablabla..'

Pertanyaanku, apakah mereka akan suka jika tiba-tiba seseorang datang kepada mereka, di hadapan mereka, dan dengan terbuka mengatakan 'Aku membencimu' atau 'Aku tidak menyukaimu'? Apakah hal itu membuatnya lebih baik? Apakah hal itu membuatnya merasa lebih enak?

Apakah hal itu membuat mereka bersenandung dalam perjalanan pulang ke rumah sambil berpikir, betapa senangnya ada orang yang berkata bahwa mereka membenciku di depanku, bukannya di belakangku.

Itukah yang mereka inginkan?

Karena aku tidak.

Kau tahu, terkadang manusia lebih nyaman bila punya rahasia. Bila privasinya dihargai. Dan sekarang aku mau menggunakannya sebagai alasan.

"Kau tahu," Aku mendesah. "Aku menyukaimu. Aku tidak akan pernah bisa tidak menyukaimu."

Dan dia tersenyum.

Terkadang, kurasa, lebih baik begitu.

**)

A/N: Nulis apa lo, chey? Drabble geje lagi yah?
Ha. Ha. Iya. Entah kenapa idenya langsung nusuk kepala dan jadilah drabble kilat paling nggak jelas yang pernah saya buat ini. Yang nggak sengaja baca matanya perih yah? Ciyus? Miapa? Saya lagi random. Saya mau post drabble lagi.

[DRABBLE] Shooting Star

/ Oktober 20, 2012 /
Shooting Star
Drabble; OC-pairing (Chaesoo Couple); Romance

 /Your name still the only thing I say when there's shooting star or candle birthday and they start to say 'MAKE A WISH'/

Chaerim tahu ia tidak perlu mengucapkannya. Ia tinggal menoleh, dan harapan itu ada di sisinya. Ia tinggal berpaling, dan permohonan itu tepat di sampingnya. Apa bintang jatuh disana yang membawa pemuda itu kesini? Atau kekuatan dari permintaannya?

Sementara, pemuda berambut hazel bernama Lee Dongsoo itu berpikiran lain. "Omong kosong tentang bintang jatuh. Tahu apa dia? Kau satu-satunya permintaanku dan aku sudah mendapatkanmu bahkan tanpa bantuan bintang jatuh, benar, kan?"

Gadis itu tersenyum. Ya, cinta itu permintaannya. Tanpa bintang jatuhpun ia bisa mendapatkannya.

[DRABBLE] Rain

/ /
Rain
Drabble; OC-pairing (Chaesoo Couple); Romance

Dongsoo menggigil dan menyilangkan tangan di depan dadanya sambil memandang percik-percik air yang lari menembus batas halte. Ia melirik jam tangan. Satu jam empat puluh lima menit. Beberapa murid Neul-Paran sudah berhamburan, dijemput oleh mobil orangtua mereka, atau nekat menembus hujan. Dongsoo menghembuskan nafas berat, ia punya alasan untuk tetap disini.

Dalam hati, Dongsoo berharap hujan tidak akan pernah reda. Sampai nanti sore. Sampai nanti malam. Sampai besok pagi. Sampai waktu pulang sekolah besok. Mungkin Tuhan akan mengabulkan doanya, bila Tuhan ingin kota Seoul terendam air hujan.

Sesosok berjaket pink pastel keluar dari gerbang sekolah. Dongsoo berdiri spontan.

"Ya~ Aku tidak bawa payung. Payungi aku, tolong."

Sosok itu terlihat ragu, antara langsung berbelok ke gang sebelah sekolah, atau menyeberangi jalan menuju halte. Dongsoo memamerkan kemampuannya berakting dengan duduk pasrah di kursi halte dan melemaskan badannya.

Berhasil. Dongsoo bersorak dalam hati.

"KAU PASTI TIDAK BAWA PAYUNG LAGI?" Suara tajam itu bersaing dengan riak hujan. Dongsoo menggeleng.

"Chaerim-ah, aku kedinginan. Ayo kita pulang."

Chaerim, gadis yang tadi dipanggil oleh Dongsoo, meringis. "Kau ini, apa kau mengenal kata malu? Buka kamusmu, dicari sampai matipun pasti tidak ada."

Dongsoo meraih lengan Chaerim dan mereka berjalan di bawah payung yang mengalirkan butir-butir hujan di tepiannya. "Jangan mencebik seperti itu. Memangnya kau tidak suka sepayung denganku?"

"Apa?"

"Eh, maksudku.." Dongsoo berdehem. "Soalnya aku suka sepayung denganmu. Sangat suka."

[DRABBLE] Story

/ /
Story
Drabble; OC-pairing (Chaesoo Couple); Romance

"Apa yang sedang kau kerjakan?"

"Tugas literatur." Chaerim menjawab pendek. "Matikan teleponnya, aku sedang sibuk."

"Jahat sekali." Dongsoo berpura-pura kaget. "Tidak usah dimatikan, mungkin aku bisa membantu. Apa tugasnya? Ceritakan padaku."

"Kami diharuskan membuat sebuah cerita fiksi. Dengan paragraf deskripsi."

"Apa kau bisa?"

"Berisik sekali. Kumatikan, ya? Nanti kutelepon lagi. Bye, Dongsoo-ya!"

Bukan berarti Chaerim benar-benar ingin mematikan telepon. Hanya saja tugas ini memerintahkan mendeskripsikan satu tokoh fiksi. Dan Chaerim tidak tahu bagaimana cara membuat karakter yang tepat. Jadi ia putuskan untuk mem-fiksi-kan salah satu tokoh nyata dalam hidupnya.

"..Pemuda itu menyukai anak kecil seperti ia menyukai sup bawang. Ia suka bunga Sakura dan warna putih. Hobi favoritnya di musim panas adalah surfing dan minum es kelapa. Pekerjaan paruh waktunya adalah mengusili orang.."

Ia menyisakan beberapa baris terakhir untuk dirinya sendiri. Sengaja tidak ia tulis untuk paper literaturnya.

/Dan aku menyukainya. Sangat menyukainya. Semua baris yang kau baca menceritakan pemuda yang kusukai, Lee Dongsoo./

**)

[DRABBLE] Cherry Blossoms

/ /
Cherry Blossoms
Drabble; OC-pairing (Chaesoo Couple); Romance, Comfort.


Kemarin, Chaerim menemukan rangkaian kecil bunga Sakura di depan rumahnya. Ada kartu nama terselip di bawah rangkaian bunga itu. Lee Dongsoo, untuk Chaerim kecilku.

Esoknya, saat bertemu Dongsoo, gadis itu memberengut, "Kenapa bunga Sakura?"

"Bunga itu cantik, kan? Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau terlihat tidak suka?"

"Bukannya tidak suka. Hanya tidak tepat." Chaerim menggigit bibir. "Bunga Sakura itu untuk dinikmati dengan keluarga. Kalau kita.. seharusnya, mawar atau lily. Akan lebih bagus."

Dongsoo tertawa. "Justru kalau mawar tidak akan pas."

"Kenapa?"

"Karena rasa sayangku seperti bunga Sakura." Dongsoo tersenyum ringan, namun matanya menunjukkan keseriusan. "Kecil, sederhana, namun berlimpah dan tidak akan ada habisnya."

[DRABBLE] Time

/ /
Time
Drabble; OC-pairing (Chaesoo Couple); Romance


Laboratorium fisika sedang dipenuhi teriakan Guru Park siang itu. Mereka sedang membahas salah satu penemuan hukum fisika paling terkenal. Albert Einstein. Teori realitivitas.

"Aku tidak mengerti maksudnya." Soojin mendesah. "Bagaimana bisa roket kedua sampai pada kecepatan 45 km/detik? Kau harus menghitungnya dan hasilnya adalah 60 km/detik."

Chaerim memutar bola mata. "Itulah inti pelajarannya. Relativitas waktu. Seberapa lama sebenarnya waktu berjalan dan seberapa lama kau merasakannya itulah yang berbeda."

"Seperti itukah?" Dongsoo memutar kepala menghadap ke bangku Chaerim. Chaerim mendongak dan mengangguk.

Fisika adalah mata pelajaran penutup hari itu. Setelah membereskan bukunya, Chaerim segera menuju koridor utama. Ia harus mengambil jaket yang kemarin ditinggalkannya di loker, karena udara musim gugur di luar tampaknya sedikit ganas.

Gadis itu terlonjak kaget saat menutup pintu lokernya. Dongsoo. Berdiri di balik pintu loker.

"Chaerim-ah! Teori realitivitas waktu yang tadi kau bicarakan itu."

Alis Chaerim menyatu. "Ya?"

"Apakah itu nyata?"

"Tentu saja. Waktu itu relatif, lama-cepatnya tergantung kau."

"Itulah.." Dongsoo menatap sepatu yang digesekkannya ke lantai. "Kurasa aku tidak mengerti hubungannya. Tapi teori relativitas waktu itu berlaku. Sekarang. Seberapa lama sebenarnya waktu berjalan dan seberapa lama aku merasakannya saat denganmu itu berbeda."

"Maksudmu?" Chaerim mengerutkan kening.

"Sudah kubilang aku tidak mengerti hubungan antara relativitas waktu dan rasa sukaku. Begini," Dongsoo menarik nafas. "Aku bisa menyatakan aku menyukaimu. Dengan dasar teori relativitas waktu. Terlalu cepat waktu berjalan saat aku bersamamu."

**)

A/N: Ini adalah part pertama dari tantangan drabble. Lagi keranjingan nih. Soalnya bikin drabble itu enak, nggak perlu susah-susah, ide dikit aja uda jadi. Enjoy, dah!

[DRABBLE] Good Morning, Beautiful!

/ Oktober 06, 2012 /
Good Morning, Beautiful!
Drabble; OC-pairing; Romance, Comfort.

**)

"..aku tahu kau sebelumnya sudah bilang akan susah dibangunkan. Tapi aku BENAR-BENAR tidak menyangka akan sesusah ITU."

"..."

Dongsoo hanya diam sambil memandang dan mengetuk-ketukkan jarinya pada toaster yang tidak kunjung menyelesaikan tugasnya. Ia melirik Chaerim yang masih mengeluh sabil mondar-mandir di depan kounter dapur.

"Bukannya aku menolak untuk membangunkanmu, tapi susahnya bukan main Dongsoo-ya.."

[DRABBLE] Untitled

/ /
Untitled
Drabble; OC-pairing; Romance, (so) Fluff.

"Did you mean it?"

"Sure. Do you think I really have any other options?"

"Options? What options?"

Dia menunduk sejenak. Menatap Nike coklat dua ratus tujuh puluh milimeternya. Mengambil napas, kemudian memandang sesosok gadis di hadapannya yang masih menunggu jawaban.

"You know, like coincidence, or chance. Or luckiness." Pemuda itu memamerkan senyum kecilnya yang tampak polos. "Coincidence if you do like me, chance if you give me hope, or luckiness if you want me but you don't need me."

Ada keheningan sejenak yang menyeruak di antara mereka. Pemuda itu mendekat dan memecah keheningannya. "So, do you feel the way I do?"

[DRABBLE] BUT I DO...

/ Juli 30, 2012 /
But I Do..
Drabble; OC-pairing; Romance, Comfort.
 
**)
Gadis itu duduk di bagian dalam sebuah restoran makanan khas Eropa di daerah Gangnam. Ia duduk tepat di samping dinding kaca yang mengekspos sebagian isi restoran yang didominasi warna pastel itu. Sepotong ricotta dan secangkir latte di hadapannya, tidak mampu menarik perhatiannya dari buku tebal bersampul hijau yang dibacanya dengan seksama. Sesekali ia menandai bagian yang menurutnya penting dengan pensil.
Ia berjengit saat ponsel di hadapannya bergetar. Lee Dongsoo. Gerutuan kecil keluar dari mulutnya.

“Yobosseo, ada apa Ketua Lee?”

“Han Chaerim?”

Chaerim meletakkan pensilnya. “Ada apa? Aku sedang sibuk mencari paper untuk edisi terbaru kita nanti, kalau kau ingin tahu.”

“HAI, INI CHAERIM?! JIKA IYA, DENGARKAN AKU..”

Segera Chaerim menarik nafas panjang. Yang jelas, ini bukan suara Ketua Lee. Suara ini lebih cemplang dan sakit di telinga. “Ya?”

“DONGSOO MENYUKAIMU!”

Tuuuut. Sambungan terputus. Chaerim meletakkan ponselnya dengan hati-hati. Tanpa sadar, gadis itu memamerkan senyum sinisnya. Menyukaimu.. olok-olokan yang begitu manis.

Ponselnya kembali bergetar. Lee Dongsoo. Lagi. “Maaf, aku sedang tidak punya banyak waktu jadi katakan apa yang kaubutuhkan, lalu tutup ponselmu atau aku yang akan menutupnya duluan!” Chaerim mengeluarkan suara kasarnya.

“Heh, Han Chaerim, dengar ya, yang bicara tadi bukan aku! Tapi Yoon Beom-il!” Ketus Ketua Lee dengan keras. Chaerim memutar bolamata, mengoceh saja sesukamu! Aku akan menjadikannya alasan bila aku belum juga mengumpulkan artikel majalah sekolah dua hari lagi.

“Jadi? Apa kau tidak dengar aku sedang sibuk?”

“Tapi setidaknya ia benar..” Dongsoo menambahkan dengan nada terburu-buru. “Maaf, ini terdengar bodoh. Tetapi kurasa aku menyukaimu. Benar-benar menyukaimu.”

**)

Ini pertama kalinya bikin drabble :) Iya, paham kok, emang jelek banget -_- Maklum baru awal-awal. Makasih yang uda baca aja deeeeh!
 
Copyright © 2010 I'm mostly tired., All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger